Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Januari 2010

Ikhlas Dalam Bekerja


Ikhlas matlamat agung
Jiwa muda yang penuh idealistik terutama di kalangan pemuda pemudi yang mempunyai kesadaran sering mencoba kretivitas baru untuk mengadakan program bagi manfaat pelajar lain.
Hal itu merupakan suatu yang positif. Namun sebesar mana program yang dibuat dan setinggi mana objektif program yang coba di capai tetap tidak dapat setinggi untuk mencapai ikhlas di sissi Allah SWt. Ikhlas adalah suatu syarat untuk mendapatkan redha Allah. Redha Allah adalah matlamat agung orang yang beriman.
Ketahuilah wahai jiwa, suatu perkara yang seolah-olah nampak islami, tetapi sebenarnya terputus hubungan nya dengan Allah, ditolak oleh Allah dan pelaku-pelakunya diseksa Allah SWT. Satu hadis Abu Hurairah r.a wajar kita renungkan.
Syahid yang mengharap gelaran
Perkara pertama yang akan di putuskan di hari kiamat ialah orang yang mati syahid. Maka di hadapkan dan di tanyakan beberapa nikmat Allah kepadanya. Setelah di akui banyaknya nikmat Allah,  maka ditanya “Apakah perbuatanmu terhadap nikmat itu?” jawabnya: “Saya telah berjuang untukmu sehingga mati syahid.” Jawab Allah; “Dusta! Karena engkau bejuang supaya dikenali sebagai pahlawan dan dirimu telahpun terkenal demikian.” Kemudian dia pun di seret kedalam neraka.
Membaca al-Quran Untuk mendapat Gelar
Begitu juga seorang pelajar yang telah pandai al-quran serta mengajarkan al-Quran. Allah maha mengetahui tidak akan menerima semua amalannya dan mengatakan amalan nya itu bertujuan untuk terkenal sebagai Qari. Kemudian di seret mukanya kedalam neraka.
Hartawan yang mengharapkan gelar dermawan
Seotang hartawan yang suka berderma tatkala hidupnya juga di campak kedalam neraka. Ini karena amalannya terputus hubungannya dengan Allah dan bertujuan untuk di kenali sebagai dermawan.
Duhai jiwa
Tidak cukupkah hadis ini cukup untuk menggentarkanmu? Sedangkan seorang yang mati syahid, qari dan dermawan pun di campak ke neraka lantaran riya yang mengganggu ikhlas, apa lagi pula kita? Sudahlah sedikit pula amalan, bercampur baur pula dengan karat mazmumah. Biarpun hidup kita dekat dengan islam, namun bersihkah engkau wahai hati?
Sumpah iblis
Firman Allah yang bermaksud “iblis berkata;”ya tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku ini sesat, pasti aku akan menjadikan memandang baik ( perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang mukhlis antara mereka” Allah berfirman; Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban akulah yang menjaganya. Sesungguhnayhamba-hambaku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang yang mengikutimu, iaitu orang-orang yang sesat” (surah al-Hijr:39-42)
Dalam menafsirkan ayat ini, Sayid Qutb menulis “ Sesungguhnya hamba-hambaku yang ikhlas untukku, maka tidak ada kuasa bagimu (syaitan) untuk menguasai mereka, tidak mampu mempengaruhi mereka, tidak mereka memandang indah terhadap perbuatan maksiat karena mereka dalam satu penjagaan kukuh dari gangguanmu, karena jalan masukmu kedalam diri mereka terkunci. Mereka dalah orang-orang yang mengantungkan pandangan mereka kepada Allah  dan fitrah mereka berhubungan rapat dengan alllah swt. (Fi zhilalil quran, juz ix, hal. 2142)
Persiapan hati.
Persediakan hati perlukan proses tarbiyah tersusun bermula dengan tazkiyatun nafs ( membersihakn jiwa) dan mualajatul uyub ( mengikis keaiban diri) mujahadah yang di tuntut amatlah perit dan bukan sedikit. Ia tidak boleh di ambil mudah! Hanya dengan dorongan iman dari hati yang dip roses untuk dekat dengan Allah akan memampukan seseorang melakukan setiap apa yang diperintahkan oleh Allah swt serta menjauhi larangannnya secara menyeluruh . inilah hakikat perhambaan sebenarnya dan hakikat pengabdian diri ini kanalahir apabila jelas hubungan hati dengan Allah swt.
Contohi keikhlasan generasi awal. Hayatilah bagaimana dekatnya para rasul dan sahabat dengan Allah swt  dalam setiap detiakn nadi mereka. Setiap nilai hidup dari sekecil-kecil perkara sehingga sebesar-besar perkara perlu di hubungkan kepada matlamat mencari keredhaan Allah agar ia sebati dalam jiwa dan lahir pula dalam tingkah laku. Mereka cintakan islam yang KAFFAH (menyeluruh). Kiata bagaimana? Bukan sekadar system pentadbiran yang perlu islami tetapi system diri kita juga perlu islami merangkumi hati, amalan seta pemikiran.  Berkata Hassan al-Hudaibi: “ tertegaknya Islam dalam diri, nescaya tertegaklah islam di muka bumi.” Wahai diri, bagaimanakah praktikalnya?
Kuatkan hubungan dengan Allah
Kekuatan hubungan dengan Allah sajalah yang menjadi tenaga penggerak hati, rasa , pemikiran dan sakhsiah diri sejajar dengan syariat islam. Ini lah rahsia sebenar kekuatan yang akan mencorakan seseorang dengan corak Allah SWT (sibghatallah)walaupun di tempat sunyi ataupun dii khayalak ramai., gelap atau terang susah atau senang setiap ketika, di mana saja. Ini lah proses didikan yang di lakukan oleh Rasulullah kepada para sahabat sehingga dikenali sebagai generasi Quran yang unik.
Prinsip Utama.
Iman mereka di iktiraf oleh Allah swt. Dan apa yang wajar kita contohi ialah keimanan mereka. Cara mereka berhubung dengan Allah dan Rasulnya, keyakinan mereka cara berfikir dan tingkah laku mereka. Hakikat ini perlu di rasai untuk mengikuti jejak langkah mereka. Sekiranya mereka menerima hakikat dekat dengan Allah sebagai titik tolak mereka dalam melaksanakan Ubudiyyah (pengabdian) kepada Allah (iaitu orang yang menegakan islam dalam diri dan di muka bumi). Maka kita juga mesti menerima hakikat ini sebagai satu prinsip yang utama.
Hakikat ini harus dirasai agar setiap rasa, pemikiran dan tingkah laku kita selaras dengan Kehendak Allah Swt, jernih dengan fikrah islam yang di bawa oleh Rasulullah saw. Itulah generasi al-Quran yang unik.
Oh hati, kenapa ruhiyyah ini gersang? Adakah aku jauh dari Allah? Aduhai…hati sebeginikah yang akan membawa orang mengenali Allah? Bersihkanlah wahai hati! Ikhlaskanlah niat semata-mata untuk redha Allah SWT.

Continue Reading...

Adakah Perubahan

Sudah hampir masanya untuk menutupi tirai tahun 2009 dan sudah bertukarnya tahun 1430 hijriyyah kepada 1431 hijriyyah, seiring perubahan yang berlaku, begitu banyak peristiwa yang terjadi tanpa mengira ruang dan waktu, masa berjalan bagaikan pedang yang menghayun tiada perasaan, merasakan setahun yang tiada terasa. Tahun baru kian menjelma, adakah dengan perubahan tahun ini, kita akan mengalami perubahan! atau tetap seperti tahun-tahun yang lalu? Adakah perubahan?

Inilah di antara persoalan penting dalam menilai diri kita sejauh mana kita akan berubah dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari. Masihkah kita ingin berada di tempat lama tanpa menginjak ke tempat baru. Kita masih ingin meneruskan perjuangan. Akan tetapi, adakah perjuangan kita hanya menggunakan perancangan yang sama? Tentu tidak bukan? Jika perancangan masih tetap sama, tidak di "update", maka banyak kelemahan akan dijumpai jika kita mentelitinya kembali. Ibarat antivirus, jika tidak di update, maka akan terjadilah kelemahan sistem yang menyebabkan virus-virus yang tidak kita ingini masuk ke dalam sistem komputer kita.

Sudah pastinya, kita sering mendengar tentang kisah-kisah nabi junjungan kita, Muhammad SAW, yang mana kebanyakkan umat islam pasti tahu tentang peristiwa hijrah Nabi SAW. Mengapakah Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, adakah beliau tidak mampu menentang kaum kafir Quraisy? Atau baginda melarikan diri kerana tertekan? Tentu tidak bukan? Kerana hijrah ini adalah perintah dari Allah SWT, Kita lihat kehidupan baginda bersama sahabat-sahabatnya di Mekah dan Madinah. Jauh berbeza dengan kehidupan di Mekah,. Pastinya jika mereka tidak berhijrah, pasti islam tidak akan berkembang dan malah, akan hilang tanpa peneraju seterusnya.
Telah dinyatakan dalam hadis tentang hijrah: Dari Amirul Mu'minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadis, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Hadis di atas telah menguatkan erti perubahan atau hijrah yang di tuntut dalam islam. Jika kita lihat pada di awal sabda nabi SAW, "Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya.", Jadi di sini, menyatakan perubahan itu bermula dari dalam diri. Kerana, tiada siapa yang boleh mengubah diri kita melainkan diri kita sendiri sebagai makhluk yang mempunyai akal. Allah juga telah berfirman, " Tidaklah aku mengubah sesuatu kaum melainkan dia mengubah dirinya sendiri." Siapa lagi kita mahu ubah diri kita melainkan diri kita,. Jatuh bangunnya, malas rajinnya dan meniti lembah kejayaan dan kehancuran adalah atas diri sendiri, bukan orang lain.

Meskipun begitu, semuanya berpunca dari hati. Hati ibarat sang Raja yang memerintah negaranya. dan Negara itu ibarat anggota tubuh badan kita. apabila hati itu baik, maka baiklah seluruh anggota badannya, jika sebaliknya, maka banyak tercadi kehancuran pada tubuh badannya. Yang saya maksudkan di sini adalah, perilaku atau perbuatannya dalam menggunakan anggota pada badannya. Sifat Mazmumah pasti menjadi sifatnya dalam kehidupan sehari-hari.


Untuk mendidik hati, kita perlulah mendidiknya dengan tarbiyyah, dan dengan kesabaran. Untuk menuju kepada perubahan, mestilah dengan bertahap. Yang mana ada kelemahan dalam diri kita, itu yang kita perbaiki. Dengan syarat, bertahap. Perubahan itu mestilah di sertai dengan lonjakan kesedaran hati, yang mana dengan lonjakan itu, kita yakin kita pasti berubah. Tetapi dengan mengungkapkan kalimah, "Insya Allah" kerana Allah telah berfirman dalam surah al-Kahfi ayat 23 dan 24 yang bermaksud:
"Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu itu " Aku pasti melakukannya itu pada besok pagi". Kecuali dengan mengatakan "Insya Allah". dan Ingatlah Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat kebenarannya daripada ini."
Di lihat dari konteks ayat ini, Allah telah mengajarkan kita supaya berkata atau apabila lupa dan lalai:
"Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat kebenarannya daripada ini."

Jadi peubahan itu seiring dengan bertambahnya ilmu, jika kita sedar apa itu tujuan hidup, erti hidup dan untuk apa kita hidup, maka, maka pasti kita kan menyedari hakikat sebenar penciptaan kita. Berubahlah menjadi seorang mukmin,. Berubahlah jika anda seorang yang mahu menjadi muslim. Bangkitlah dari lenamu. Allah masih kan bersamamu.

By:
Hafizul Hakimi
Jurusan Aqidah Dan Filsafat,
Fakultas Ushuluddin
IAIN ar-Raniry
http://hafizulhakimi.blogspot.com
Continue Reading...
Powered By Blogger
 

Sahabat LDK Ar-Risalah

Terkini Palestinaku

LDK Ar-Risalah Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template